Author: Riana Mashar

  • ChiFEC UAD Lakukan Penelitian Pengasuhan Anak dalam Budaya Jawa Bersama SEAMEO CECCEP

    ChiFEC UAD Lakukan Penelitian Pengasuhan Anak dalam Budaya Jawa Bersama SEAMEO CECCEP

    Berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan di sebuah dusun di kelurahan di Yogyakarta, SEAMEO CECCEP mengadakan diskusi secara online bersama dengan ChiFEC UAD. Penelitian ini dimaksudkan untuk menggali informasi lebih dalam tentang pola pengasuhan anak terutama di dalam budaya Jawa.

    Diskusi rutin dilakukan setiap satu minggu sekali yang sudah di mulai sejak Kamis lalu (16/02). Diskusi dilakukan dengan harapan tercapainya penelitian yang tepat sasaran dan dapat selesai tepat pada waktu yang telah ditentukan. Pemaparan materi teknis-teknis pengambilan data melalui observasi dan wawancara disampaikan oleh Fatimah Rahmah, S.Psi., M.Ed yang membidangi Research and Development Officer di SEAMEO CECCEP. Pada penelitian pengasuhan berbasis budaya jawa ini, ChiFEC UAD dan SEAMEO CECCEP menggandeng dua mahasiswa sebagai enumerator yang nantinya akan bertugas secara langsung di lapangan selama kurang lebih satu bulan. Harapannya enumerator dapat tinggal bersama warga di dusun yang akan dijadikan lokasi penelitian, supaya dapat menggali dan mengamati lebih detail dalam pola pengasuhan dan juga kehidupan sehari-harinya.

    Setelah diskusi yang cukup panjang, akhirnya penelitian akan resmi dilakukan pada tanggal 27 Februari – 31 Maret 2023. Kegiatan ini dihadiri juga oleh Dr. Riana Mashar, M.Psi., Psiko., selaku kepala pusat studi ChiFEC UAD, kemudian dari SEAMEO CECCEP Ith Vuthy, M.Sc., M.A. sebagai Deputy Director for Program, Irfan Anshori, M.Pd. sebagai Head of Research and Development Division, Sitti Huzaimah, M.Pd. sebagai Research and Development Assistant, juga turut hadir dalam kegiatan diskusi tersebut.

    Enumerator sebagai salah satu alat yang sangat penting dalam berjalanannya penelitian ini diharapkan dapat bertanggung jawab, dan juga dipersilahkan untuk bertanya ataumenyampaikan jika ada kendala selama pengambilan data berlangsung, ujar Fatimah, M.Psi dalam diskusi pagi itu. Kemudian untuk  minggu-minggu selanjutnya akan terus dilakukan diskusi untuk memantau perkembangan proses penelitian sudah sampai sejauh apa. (PM)

  • ChiFEC UAD Tumbuhkan Minat Menulis pada Guru Melalui Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media

    ChiFEC UAD Tumbuhkan Minat Menulis pada Guru Melalui Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media

    Yogyakarta – Children Family and Education Center Universitas Ahmad Dahlan menggelar Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media (11/01). Tujuan diadakannya penulisan pelatihan ini guna mengembangkan potensi yang dimiliki guru terhadap minat menulis berbasis artikel populer untuk kepentingan media masa. Pada pelatihan ini penulisan lebih fokus pada penulisan berita.

    Iis Suwartini, M. Pd. hadir sebagai narasumber sekaligus pelatih dalam kegiatan pagi itu. Sebagai brain storming ia menceritakan tentang penulisan berita yang mengangkat tema budaya. Tema budaya dipilih sekaligus disarankan  karena kebanyakan media masa tertarik dengan konten semacam itu, serta untuk penulisannya cenderung lebih mudah. Dalam presentasinya Iis mengungkapkan bahwa tema yang cocok dengan seorang guru adalah tema opini, karena dinilai lebih sesuai.

    Sebelum menulis berita, penulis harus sudah menentukan topik atau peristiwa yang sedang marak terjadi seperti hari besar dan lain sebagainya. Penulisan berita dalam bentuk digital tidak boleh kurang dari 400 kata dan tidak lebih dari 470 kata. Sedangkan dalam bentuk cetak berita sebaiknya ditulis antara 535-575 kata, dalam setiap beritanya.

    Pada pertengahan kegiatan pelatihan, peserta diminta untuk membuat berita untuk kemudian harapannya dapat di upload ke dalam media masa, baik digital ataupun cetak. Pelatihan Penulisan ini diikuti oleh 20 guru TK ABA Se-DIY. Peserta sangat antusias dalam pelatihan ini, hal ini ditunjukkan oleh para peserta yang bertanya kepada narasumber seputar penulisan berita.

    “Bu saya mau bertanya. Jika saya ingin menulis berita tentang pengolahan sampah oleh ibu-ibu Aisyiyah bagaimana ya bu? Maksud saya nanti isinya sebaiknya seperti apa dan masuk dalam tema apa?” tanya salah satu peserta pagi itu.

    Kemudian narasumber menjelaskan “Nanti yang ibu tulis fokus saja dulu ke Aisyiyahnya. Supaya mengangkat Aisyiyah dulu. Nanti baru setelah membicarakan Aisyiyah di tempat ibu, bisa langsung dimasukkan berita yang ingin disampaikan (tentang sampah)”.

    Pada penghujung kegiatan Iis Suwartini, M. Pd. menjelaskan cara mengunggah berita melalui media digital yang paling mudah, yaitu melalui website berita Kompasiana. “Nanti ibu-ibu hanya perlu membuat akun dan mengupload beritanya ke sini” ujar Iis sambil menunjukkan caranya melalui tampilan proyektor. Ia menambahkan jika ingin mengunggah ke media cetak, bisa melalui email redaksi koran masing-masing. (PM)

  • Evaluasi Lanjutan Kegiatan P2K2S di Universitas Ahmad Dahlan

    Evaluasi Lanjutan Kegiatan P2K2S di Universitas Ahmad Dahlan

    Pelatihan Calon Pelatih Pengasuhan Penuh Kesadaran dan Kasih Sayang (P2K2S) yang telah dilakukan beberapa waktu lalu kemudian dilanjutkan dengan evaluasi lanjutan. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kendala dan respon dari wali murid di TK masing-masing. Setelah guru-guru dilatih pola pengasuhan penuh kesadaran dan kasih sayang , guru kembali menyampaikan materi-materi tersebut kepada orang tua murid.

    Kegiatan diawali dengan melakukan ice breaking berjoget maumere yang dipandu oleh salah satu peserta. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan sharing mengenai kegiatan yang telah dilakukan di TK masing-masing. Sharing dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan oleh Dr. Riana Mashar, M.Psi kemudian guru bergantian menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan apa yang dialami di sekolah.

    Dalam pelatihan yang dilakukan oleh guru di sekolah masing-masing, ditemukan pola pengasuhan orang tua yang terlalu protective sehingga berdampak kurang baik ke anak. Sehubungan dengan covid-19 yang terjadi dan menyebabkan pembelajaran daring, sehingga salah satu wali murid ada yang benar-benar melarang anaknya untuk keluar rumah. Akibatnya saat pembelajaran sudah mulai tatap muka, anak menjadi sulit untuk bersosialisasi dan minder.

    Kemudian muncul keresahan yang dialami salah satu guru akibat murid terlalu banyak menghabiskan waktu di rumah sehingga jauh dari pantauan guru. “Anak itu kok tiba-tiba suka mencium, suka minta peluk atau panggu sama teman lawan jenisnya. Anak itu perempuan itu yang suka begitu. Saya jadi penasaran, anak kok bisa sampai tau begitu. Apakah dari video di YouTube atau dari mana saya tidak tahu” ungkap salah satu guru yang hadir, Kamis (03/11).

    Untuk tetap menjaga semangat para peserta evaluasi lanjutan, dilakukan ice breaking berupa tepuk P2K2S yang pernah diajarkan saat pelatihan pertama pada beberapa waktu yang lalu. Di penghujung kegiatan para guru mengharapkan diajarkannya pelatihan mengenai berbagaimacam ice breaking, untuk dijadikan bahan referensi pengajaran di kelas.

    Evaluasi lanjutan kegiatan P2K2S dilaksanakan secara luring di Kampus 5 UAD, dihadiri oleh 20 guru TK se-DIY. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar, dan peserta nampak antusias mulai dari acara dibuka hingga selesai. (PM)

  • ChiFEC UAD dan SEAMEO CECCEP Kembali Lakukan FGD di Pura Pakualaman Yogyakarta

    ChiFEC UAD dan SEAMEO CECCEP Kembali Lakukan FGD di Pura Pakualaman Yogyakarta

    Pada Focus Group Discussion kali ini ChiFEC UAD (Children and Famili Education Center Universitas Ahmad Dahlan), Program Studi PGPAUD UAD, dan SEAMEO CECCEP (Southeast Asian Ministers of Education Organization Centre for Early Childhood Care Education and Parenting) menggandeng 4 narasumber dari lingungan Pura Pakualaman di antaranya, GPH Indrokusumo, KPH Kusumoparatho, KMT Ndoyodipkyo, dan BRAY Indrokusumo.

    Diawali dengan pemaparan keresahan terhadap pola pengasuhan yang sudah meninggalkan nilai kebudayaan. Kemudian tim peneliti menemukan keresahan jika informasi penelitian ini hanya bersumber melalui buku, dikhawatirkan kondisi di dalam buku tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

    Menurut PERDA Prov. DIY No. 05 tahun 2011 tentang pengasuhan, terdapat 18 nilai pola pengasuhan berbasis budaya. Sebagai contoh anak diajari dengan berbicara menggunakan bahasa Jawa, poin tersebut telah termasuk ke dalam nilai kesopanan. Meskipun demikian pola pengasuhan tidak bisa dipaksakan dan difokuskan pada nilai pola pengasuhan yang ada.

    “Pola pengasuhan di dalam benteng (Pura Pakualaman) peran seorang ibu hanyalah menyusui. Sementara pengasuhan, bayi sejak lahir telah diserahkan kepada Emban. Sampai mereka dewasa atau bisa mandiri” ungkap BRAY Indrokusumo dalam diskusi, Sabtu (12/11). Emban merupakan seorang pengasuh yang bertugas mengajarkan tata krama dan berbahasa di lingkungan dalam benteng.

    Sampai sekarang adat budaya di dalam Pura masih dijalankan. Kemudian dijelaskan juga jika proses pembelajaran di lingkup Pura menggunakan ilmu titen atau mengamati. Faktanya budaya jawa bisa dimasukkan ke mana saja, namun pengaplikasiannya yang kurang.

    KPH Kusumoparatho mengungkapkan bahwa seharusnya unsur-unsur potensi manusia terhadap budaya bukanlan cipta, rasa, dan karsa, melainkan rasa, cipta, dan karsa. Sebab rasa merupakan unsur ikatan sejati antara ruh dan jasad. Kemudian cipta, mewakilkan akal. Setelah bayi lahir memiliki rasa lapar, lalu mampu berpikir dengan akal. Yang terakhir barulah karsa (kehendak).

    Kebiasaan mendongengkan anak ketika kecil, berdampak pada hati. Meskipun anak belum bisa berpikir mengenai cerita yang disampaikan, namun anak sudah bisa merasakan dengan hati.

    Selain mengenai pola pengasuhan di dalam FGD tersebut, juga menjelaskan tentang adat-adat jawa yang masih dijalankan saat calon bayi masih dalam kandungan, seperti 7 bulanan dan brokohan. (PM)

     

  • Pusat Studi ChiFEC, Program Studi PGPAUD UAD dan SEAMEO CECCEP Lakukan Diskusi dengan Expert Budaya Jawa di Universitas Gajah Mada

    Pusat Studi ChiFEC, Program Studi PGPAUD UAD dan SEAMEO CECCEP Lakukan Diskusi dengan Expert Budaya Jawa di Universitas Gajah Mada

    Tim peneliti Children and Family Education Center (ChiFEC), Program Studi PGPAUD UAD dan Southeast Asian Ministers of Education Organization Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) terus melakukan penggalian informasi seputar penelitian yang akan dilakukan sepotar pengasuhan dengan budaya jawa.

    Melakukan diskusi konsultasi dengan beberapa expert dalambidangnya merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh tim peneliti. Focus Group Discussion (FGD) dilakukan di Universitas Gajah Mada, tepatnya di Pusat Studi Kebudayaan (PSK) UGM. Dalam diskusi ini dihadiri oleh 3 narasumber di antaranya adalah, Dr. Sri Ratna Saktimulya, M.Hum. Kapsu PSK UGM; Dr. Mutiah Amini, M.Hum. Kaprodi Sejarah FIB UGM; dan Prof. Dr. Suwardi, M.Hum. GB Bahasa Jawa UNY.

    Menurut GB Bahasa Jawa UNY, Jawa itu multidimensi dan dapat dilihat dari mana saja. Parenting dengan cara tradisional akan mudah sekali terpengaruh jika dalam lingkupnya terdapat pengaruh modern di dalamnya.  Prof. Dr. Suwardi menyarankan untuk lingkup penelitian ini tidak hanya di wilayah Jogja saja, namun juga bisa sampai ke Solo, atau bahkan sampai ke Jawa Timur.

    Pengasuhan berbasis etnis nampaknya merupakan salah satu topic penelitian yang menarik untuk digali lebih dalam lagi. Mengingat banyaknya budaya-budaya yang terdapat di Indonesia, masing-masing daerah pasti memiliki ciri khasnya sendiri dalam hal pengasuhan.

    Dr. Sri Ratna Saktimulya memberikan contoh salah satu pengasuhan yang terjadi di lingkup keraton bahwa putra mahkota sudah diajarkan berbahasa menggunakan bahasa kromo alus sejak masih dini. Pembelajaran bahasa ini juga bisa dilakukan dengan mengajarkannya melalui tembang-tembang tradisional Jawa.

    “Terdapat buku yang mengajarkan tata karma yang dijaga betul di dalam keraton” ungkap Dr. Mutiah dalam FGD, Rabu (21/09). Buku tersebut dinamai sebagai Serat Pimulang dan di tulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Dalam paparannya, buku Kawruh Pamomong juga bisa dijadikan referensi, dan sudah terdapat versi terjemahannya.

    Kegiatan diskusi tersebut dihadiri oleh 3 narasumber dan 4 tim peneliti dari ChiFEC UAD dan SEAMEO CECCEP. Kegiatan berlangsung lancar, dan diakhiri dengan serah terima bingkisan lalu dilanjutkan dengan foto bersama. (PM)

  • Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Outdoor Learning bagi Guru PAUD

    Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Outdoor Learning bagi Guru PAUD

    Kulon Progo – Pengabdian kali ini dilaksanakan di Kulon Progo bersama para guru PAUD. ChiFEC UAD mengusung tema “Pelatihan bagi Pelatih (TOT) Outdoor Learning bagi Guru PAUD” dan diselenggarakan selama 2 hari kemudian dilanjutkan dengan webinar pada hari ke 3 sebagai evaluasi.

    Pelatihan dimulai pada hari Kamis (01/09) pukul 08.00 WIB. Kegiatan di hari pertama dimulai dengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Sekrtaris PG PAUD UAD Dwi Hastuti, S.Pd, M.Pd.I. dan dilanjutkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo Arif Prastowo, S.Os., M.Si.

    Pada hari pertama sebelum memulai kegiatan Outdoor Learning peserta diminta untuk bersama-sama melakukan ice breaking yang dipandu oleh Dr. Febritesna Nuraini, S.Sos.I., M.Pd. dan juga beberapa mahasiswa PGPAUD Universitas Ahmad Dahlan yang ikut terlibat sebagai pemandu kegiatan ice breaking.

    Menurut Dwi Hastuti S.Pd, M.Pd.I. bahwasannya manfaat pemberian pelatihan Outdoor Learning ini diharapkan bisa membantu para guru khususnya ditingkat sekolah PAUD untuk bisa memahami bagaimana cara memahami karakter serta sifat anak melalui metode pembelajaran yang diberikan, serta dapat dijadikan salah satu referensi untuk meningkatkan konsentrasi pada siswa melalui metode bermain sambal belajar.

    Peserta terdiri atas 50 guru PAUD yang berasal dari Kulon Progo. Seluruh peserta nampak antusias dalam kegiatan tersebut. Dengan adanya Pelatihan Outdoor Learning ini diharkapkan juga menjadi salah satu sumber referensi guru untuk bisa diterapkan dalam pembelajaran dengan metode bermain sambal belajar agar anak tidak merasa cepat bosan dengan sistem pembelajaran yang diberikan.

    Kegiatan Pelatihan Outdoor Learning yang dilangsungkan selama 2 hari yang berlangsung tatap muka mendapatkan respon yang baik dari para guru PAUD yang ikut terlibat dalam kegiatan. Kegiatan tersebut dinilai dapat membantu setiap guru untuk lebih menguasai dan mengambil kontrol penuh pada saat proses pembelajaran dikelas.

    Kegiatan belajar mengajar di luar kelas (Outdoor Learning) tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pengajaran harus tetap memiliki konsep dan langkah-langkah kegiatan yang jelas, sehingga bisa menjadi acuan utama bagi seorang guru yang mengajar siswa di luar kelas. Dengan diadakannya kegiatan tersebut diharapkan bisa membantu tingkat minat siswa dalam pembelajaran dan dapat mencerdaskan para siswa dan membuat mereka memahami matapelajaran dengan baik.

    Di akhir sesi dari seluruh rangkaian acara yaitu pada hari kedua, para peserta menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti acara pelatihan Outdoor Learning yang sudah berlangsung selama 2 hari. Dalam penyampaian kesan dan pesan dari para guru PAUD khusunya wilayah Kulon Progo menyampaikan bahwasannya kegiatan tersebut dinilai sangat efektif dan efisien untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.

  • WEBINAR NASIONAL – Peran Ayah dalam Islamic Mindfulness Parenting

    WEBINAR NASIONAL – Peran Ayah dalam Islamic Mindfulness Parenting

    Yogyakarta – Children and Family Education Center (ChiFEC), menggelar kegiatan webinar nasional parenting. Pada webinar parenting kali ini ChiFEC mengusung tema “Peran Ayah dalam Islamic Mindfulness Parenting”. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus 2022, pada pukul 08.00 – 11.10 WIB.

    Dihadiri oleh 2 narasumber yaitu Prof. Alimatul Qibtiah, S.Ag., M.Si., Ph.D sebagai Ketua Komisioner KOMNAS Perempuan RI, dan Drs. H. Muh. Jammaludin Ahmad, S.Psi,. Psikolog selaku Ketua LPCR PP Muhammadiyah, dan dimoderatori oleh Intan Puspita, S.Si., M.A yang merupakan salah satu dosen di PG PAUD UAD.

    Materi-materi yang disampaikan oleh kedua narasumber sangat menarik, seperti pada materi yang disampaikan oleh narasumber pertama tentang perbedaan-perbedaan pola pengasuhan antara ayah dan ibu. Disela-sela penyampaian materi Prof. Alimatul Qibtiah mengungkapkan bahwa faktanya masih sangat sedikit para ayah yang mengerti bagaimana mengasuh dan merawat anak dengan benar. “Tak jarang mereka harus melihat tutorial di Youtube bagaimana cara memandikan bayi” ujar Prof. Alimatul Qibtiah.

    Di sisi lain Drs. H. Muh. Jammaludin juga mengungkapkan bahwa di dalam Al-Quran banyak pedoman pengasuhan yang bisa diterapkan oleh ayah. Pola pengasuhan dasar yang bisa mulai diterapkan oleh ayah adalah sadar sikap, perilaku, dan keputusan.

    Kedua narasumber banyak memberikan kisah-kisah ayah dalam mindfulness parenting yang mana bisa membuka pengelihatan peserta bahwa pengasuhan anak tidak hanya bisa dilakuikan oleh ibu, namun ayah juga mampu. Terdapat hal penting yang disampaiikan oleh narasumber, yaitu sebelum anak diberikan pendidikan dari luar ayahlah yang harus memberikan pendidikan untuk pertama kalinya.

    Webinar ini dihadiri oleh kurang lebih 100 peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Peserta nampak sangat antusias dalam mengikuti rangkaian kegiatan webinar dari awal hingga akhir. (PM)

  • PELATIHAN CALON PELATIH PENGASUH PENUH KESADARAN DAN KASIH SAYANG DI PROVINSI D.I YOGYAKARTA

    PELATIHAN CALON PELATIH PENGASUH PENUH KESADARAN DAN KASIH SAYANG DI PROVINSI D.I YOGYAKARTA

    Yogyakarta – Acara P2K2S yang bekerjasama antara ChiFEC UAD, SEAMEO CECCEP, Universitas Pendidikan Indonesia, dan Program Studi PGPAUD UAD, pada hari ke-2 dibuka pada pukul 08.30 WIB tanggal 19 Juli 2022 dengan menghadirkan Dr. Tina Hayati Dahlan. S.Pd., M.Pd., Psikolog selaku Kaprodi Psikologi Pendidikan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus narasumber utama dan juga sebagian Tim SEAMEO CECCEP yang turut andil dalam keberlangsungan acara.

    Sebagai wujud kepedulian pada sistem Pendidikan khususnya pada tingkat Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-kanak, para peserta yang hadir diberikan waktu untuk saling menceritakan dan berbagi pengalaman yang dialami ketika melakukan pembelajaran dengan anak didik agar para perserta lain bisa saling mengetahui kendala maupun cara baru dalam mendidik anak.

    Mengenali tingkat emosional anak dan bagaimana cara anak bersosialisasi juga sangat penting dalam melihat pengembangan anak. Cara anak bersosialisasi dengan teman sebaya tentu bisa menjadi tolak ukur untuk melihat seberapa jauh pehaman anak dalam berkomunikasi dan berekspresi, begitu juga dengan memahami tingkat emosional anak yang cenderung berubah-ubah yang terkadang muncul tanpa sebab akibat. Maka dari itu, para peserta dalam acara pelatihan ini diberikan metode untuk lebih peka dan sadar akan kedua poin penting tersebut.

    Perkembangan pada anak juga tidak hanya meliputi sikap dan cara berpikir, namun juga dalam bidang Kesehatan anak untuk mengetahui apakah setiap anak menerima kondisi tubuh yang sehat atau tidak. Adapun cara mengetahui kondisi tersebut bisa dengan melakukan pengamatan pada pemberian gizi makanan yang mana sudah masuk dalam pemberian gizi yang cukup atau belum. Jika seorang anak kurang mendapatkan gizi yang cukup makan itu bisa sangat mempengaruhi proses perkembangan pada anak yang mengakibatkan anak jadi sering jatuh sakit dan kurang semangat dalam proses pembelajaran. Sehingga, mengakibatkan turunnya perkenbangan akademi maupun non-akademi pada anak.

    Terkait dengan pengaruh dalam proses perkembangan anak didik, narasumber memberikan tips agar para peserta yang hadir dalam acara pelatihan tersebut yang mencakup guru-guru PAUD dan TK lebih memperhatikan anak didik untuk tidak hanya fokus dalam pengolahan dan pemberian pada cara anak bersosialisasi dan emosional. Namun juga lebih memperhatikan pola hidup dan pola makan pada anak dengan cara rutin memberikan masukan kepada para orang tua murid untuk tetap menjaga pola makan anak yaitu 3 kali dalam sehari agar anak menerima gizi yang cukup untuk membantu dalam proses pembelajaran.

    Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam perkembangan proses pembelajaran anak tentunya sangat memberatkan bagi sebagian pendidik dan orang tua. Namun, perlu diingatkan kembali bahwa perkembangan anak juga bisa terlihat baik ataupun menjadi tidak baik yang berasal dari sikap Guru maupun Orang Tua itu sendiri. Maka dari itu, jangan hanya menunggu hasil perkembangan yang dilihat pada anak tapi juga harus mempertimbngkan bagaimana usaha yang baik agar menghasilkan anak dengan karakter yang baik dan juga memiliki kesehatan anak yang baik juga. (AN)

  • Pelatihan Prenting Kembali Diselenggarakan Selama 2 Hari di Universitas Ahmad Dahlan

    Pelatihan Prenting Kembali Diselenggarakan Selama 2 Hari di Universitas Ahmad Dahlan

    Yogyakarta – Pelatihan Calon Pelatih Pengasuhan Penuh Kesadaran dan Kasih Sayang (P2K2S) dilaksanakan secara luring bertempat di lantai 10 gedung utama kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan. Yang mana P2K2S ini merupakan kerjasama antara SEAMEO CECCEP (Southeast Asia Ministers of Education Organization Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting), Universitas Pendidikan Indonesia, dan Program Studi PGPAUD Universitas Ahmad Dahlaan. Pelatihan tersebut dimulai pada pukul 08.00-16.00 WIB. Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog, hadir sebagai pemateri kegiatan parenting ini yang diselenggarakan selama 2 hari pada tanggal 18 dan 19 Juli 2022.

    Kegiatan pelatihan ini merupakan rangkaian acara dari kegiatan kunjungan penelitian kepada para guru TK ABA se-D.I Yogyakarta yang telah dilaksanakan beberapa bulan yang lalu. Acara dimulai dengan pembacaan kalam ilahi kemudian dilanjutkandengan sambutan-sambutan yang disampaikan oleh Dr. Dody Haryanto, M.Pd disusul sambutan oleh Prof. Vina Adriany, M.Ed., PhD selaku direktur SEAMEO CECCEP, sambutan tersebut sekaligus membuka secara resmi serangkaian acara yang akan dilaksanakan selama 2 hari ke depan.

    Dr. Tina Hayati Dahlan, S.Psi., M.Pd., Psikolog

    Hari pertama kegiatan ini meliputi penyampaian 3 modul, yang pertama Ikhtisar Pengasuhan Penuh Kesadaran dan Kasih Sayang, yang ke dua Stres Pengasuhan dan Reaksi Otomatis, dan yang ke tiga Kebersyukuran dan Contoh Praktik Kebersyukuran, Pernapasan Penuh Kesadaran, dan Pengamatan Penuh Kesadaran. Sebelum masuk ke dalam materi parenting di atas, perlu ditekanan kengetahuan kepada para guru, bahwa keberhasilan parenting ini adalah fokus pada orang tua terlebih dahulu, bukan fokus ke hasil pada anak.

    Dalam presentasinya Dr. Tina Hayati Dahlan menyampaikan bagaimana orang tua harus memperlakukan atau bersikap pada anak. Selain menyampaikan materi Dr.Tina juga memberikan contoh-contoh hal yang perlu dilakukan dan tidak, seperti mengubah kalimat yang tidak menghakimi anak. Alih-alih menggunakan “Mengapa kamu tidak membersihkan mainan kamu?” lebih baik menggunakan “Apakah kamu mau membereskan maiananmu? Biar Ibu bantu kamu”.

                        ice breaking

    “Proses timbal-balik yang berkelanjutan antara orang tua dan anak akan mendukung proses keberhasilan pengasuhan penuh kesadaran” ujar Dr. Tina Hayati Dahlan. Orang tua harus sangat memberhatikan bagaimana intonasi saat berbicara kepada anak, mimik wajah, dan juga respon pada anak. Keterbukaan orang tua pada  anak juga perlu dilakukan oleh orang tua, seperti jika orang tua sedang marah atau lelah sampaikan kepada anak apa adanya, jangan sampai anak terkena imbas atas  kondisi emosi pada orang tua. Saat penyampaian materi, ice breaking sering dilakukan agar peserta tetap bersemangat mengikuti kegiatan hingga usai.

               sesi tanya jawab peserta

    Kegiatan ini berlangsung lancar dan pesrta sangat antusias pada materi yang disampaikan. Hal tersebut terlihat pada banyaknya guru yang bertanya dan menyampaikan pengalamannya pribadi saat mengasuh anak. P2K2S ini dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang berasal dari 4 kabupaten dan 1 kota di Yogyakarta. (PM)

     

  • Penelitian Learning Loss Pada Anak Usia Dini Di Masa Pandemi Dalam Rangka Realisasi MOU antara ChiFEC, Pusjaknas UAD, dan PWA DIY

    Penelitian Learning Loss Pada Anak Usia Dini Di Masa Pandemi Dalam Rangka Realisasi MOU antara ChiFEC, Pusjaknas UAD, dan PWA DIY

                                               TK ABA Tawarsari III

    Children & Family Education Center (ChiFEC) , Pusat Studi Kebijakan Nasional Universitas Ahmad Dahlan (Pusjaknas UAD), dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWA DIY) beberapa waktu lalu mengadakan penelitian sebagai wujud nyata kerja sama MOU antar lembaga. Kegiatan penelitian ini dilakukan mulai dari tanggal 25 – 30 Maret 2022, yang melibatkan kurang lebih 250 guru di Kabupaten yang ada di Yogyakarta. Kegiatan dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Aisyiyah.

                             SD Unggulan Aisyiyah Bantul

    Penelitian ini fokus pada tumbuh kembang anak karena di masa pandemi anak banyak mengalami learning loss. Sasaran dalam penelitian ini adalah Guru TK ABA yang ada di DIY. Tim peneliti mengunjungi 5 Kabupaten yang ada di Yogyakarta antara lain, Kota Yogyakarta, Kulonprogo, Gunung Kidul, Sleman, dan Bantul. Pada masing-masih Kabupaten dihadiri perwakilan oleh 2 – 3 guru yang jika ditotal kurang lebih mencapai 50 guru TK ABA Se-Kabupaten tersebut.

    Tim peneliti didampingi oleh pengurus dan atau pamong sekolah untuk membantu pengkondisian acara yang berlangsung. Kegiatan yang dilakukan adalah Forum Group Discussion (FGD) atau bisa disebut dengan wawancara atau  interview. Pengambilan data ini merupakan proses lanjutan dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan media kuesioner melalui google form.  

                TK ABA Kauman Yogyakarta

    Tak hanya fokus pada aspek tumbuh kembang pada anak, namun aspek yang didiskusikan juga mencakup pemahaman guru, fasilitas belajar anak selama Belajar Dari Rumah (BDR), dukungan dari lingkungan, serta aspek ekonomi. Guru-guru nampak antusias dalam mengikuti rangkaian acara ini dari awal hingga usai. Hal tersebut ditandai dengan aktifnya guru dalam melakukan diskusi dan saling menyampaikan pengalamannya selama mengajar di masa pandemi. 

    Tim peneliti berharap bahwa data yang telah terkumpul dapat bermanfaat kedepannya. Berbagai masalah-masalah dan kendala yang ditemukan selama proses learning loss semoga dapat ditemukan jalan keluarnya bersama. (PM)